Kategori Sejarah

Iklan Google

Minggu, 02 September 2012

Budaya Terracota Majapahit

Peta Wilayah Utama Kerajaan Majapahit

Kata “Terracota” berasal dari bahasa Italia terra cotta, yang berarti bakaran tanah. Merujuk kepada obyek benda-benda yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Budaya terracotta Majapahit terdiri dari berbagai jenis artefak dari tanah liat yang diproduksi di era Kerajaan Majapahit yang meliputi ornamental bangunan, patung, hiasan taman dan kuil, serta wadah dan periuk untuk keperluan sehari-hari.  Artefak-artefak terracotta Majapahit yang ditemukan dari masa itu dibuat dengan cara dikeringkan di bawah sinar matahari terlebih dahulu sebelum kemudian dibakar di dalam tungku sederhana yang terbuka.
Seni terracotta penduduk Majapahit  merupakan satu bidang pengetahuan sejarah yang belum dipelajari dengan lebih mendalam oleh kebanyakan peneliti. Selama periode waktu yang lama, budaya terracotta Majapahit kurang begitu diperhatikan jika dibandingkan dengan hasil peninggalan seni Majapahit lainnya yang terbuat dari perunggu, batu atau emas. Oleh sebab itu, banyak fragmen-fragmen terracotta yang ditemukan di wilayah Trowulan oleh para petani yang sedang mengolah tanah maupun oleh para pekerja bangunan dan jalan, kurang dihargai.
Terracota Gajahmina.
Benda ini berfungsi sebagai meja sesaji / offering stand

Adalah Sir Thomas Stamford Raffles, seorang Liutenant Governor di Jawa pada tahun 1811 sampai 1815 yang pertama kali membangkitkan perhatian masyarakat dunia terhadap sejarah purbakala Jawa. Melalui tulisannya yang berjudul History of Java yang dipublikasikan pada tahun 1817 dimana ia pertama kali mendiskusikan perihal Majapahit, khasanah sejarah inipun kemudian menjadi banyak dipelajari oleh para ilmuwan Belanda di akhir abad ke-19.
Di awal abad ke-20, seorang Regent untuk wilayah Mojokerto, R.A.A. Kromodjojo Adinegoro, mulai memperhatikan masalah pelestarian budaya dan peninggalan sejarah dari Kerajaan Majapahit di wilayahnya. Ia bersama dengan arsitek dan arkeolog Belanda, Henri Maclaine Pont, kemudia mendirikan museum di dekat situs Majapahit dengan dukungan dari Oudheidkundig Vereeniging Majapahit (OVM – Majapahit Archeological Society) di tahun 1924. Sebagai pemimpin pertama dari museum situs ini, Maclaine Pont telah membuka berbagai jalan untuk studi lanjutan tentang Terracotta Majapahit.
Berdasarkan dari survey lapangannya, Maclaine Pont kemudian berhasil menentukan lokasi utama dari situs Ibukota kuno Majapahit, serta sketsa tentative mengenai bentuk kehidupan urban di pusat kerajaan tersebut. Kemudian, W.F. Stuterheim, kepala biro arkeologi Netherlands East Indies (Pemerintah Kolonial Hindia Belanda), menulis laporan yang dipublikasikan pada 1941 yang membahas tentang hubungan arsitektur era Majapahit dengan Istana-istana di Bali. Teorinya tersebut kemudian melahirkan Historiografi Jawa menjadi sebuah bidang pengetahuan sejarah yang baru.
Artefak terracotta yang ditemukan oleh Maclaine Pont dan Stutterheim sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.
Tempat lilin dari terracota ini, digunakan sebagai
penerangan di banyak rumah-rumah masyarakat era Majapahit

Meskipun kurangnya riset mengenai terracotta majapahit, ketertarikan masyarakat dunia terhadap seni terracotta majapahit semakin meningkat, ditunjukkan dengan banyaknya jumlah permintaan, pameran, dan katalog tentang hasil seni terracotta majapahit di pasar seni dunia. Contohnya bisa ditemukan pada koleksi-koleksi di beberapa museum di dunia termasuk Museum Trowulan Jawa Timur, Museum Nasional Jakarta, Rijksmuseum Amsterdam, Keramiekmuseum Princessehof di Leeuwarden, Netherlands Museum, dan Metropolitan Museum of Art di New York.
Sayangnya, kurangnya pengetahuan di bidang ini, mengakibatkan masyarakat mudah tertipu oleh replica artefak palsu yang banyak diproduksi oleh perajin di pedesaan sekitar Trowulan, Mojokerto sejak tahun 1950 an atau bahkan lebih awal lagi, untuk kemudian dijual di pasar seni di area Trowulan, Surabaya dan Ibukota Jakarta dalam jumlah massal.
Artefak terracotta majapahit dibagi menjadi tiga kategori besar berdasarkan dari segi kegunaannya yaitu, wadah dan perlengkapan rumah tangga seperti mangkuk, kendi dan pot dengan berbagai bentuk dan ukuran. Kemudian dekorasi arsitektur seperti ornament atap, tiruan kuil dan miniature bangunan yang digunakan untuk hiasan taman. Serta kategori hiasan patung dalam bentuk kepala dan dada figuran wanita yang digunakan sebagai pedestal atau hiasan taman.
Patung hiasan taman ini digunakan sebagai penghias taman-taman kalangan
masyarakat menengah atas di Era Majapahit.
Menunjukkan salah satu trend fashion wanita pada masa itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda. Komentar tidak boleh memuat SARA & kata-kata kotor. Terima Kasih.

Sponsor